Powered by Blogger.
RSS

[FICTION] LET HIM GO !

“Akhirnya, ada kesempatan juga untuk aku”, ucap wanita berkerudung peach itu memecah sepi. Namun kemudian hening kembali. Sunyi yang tak sekedar hilangnya suara. Namun lebih kearah dinginya suasana. Dua orang berbeda kelamin yang menghadap arah bersama nampaknya sedang terkekang dalam kebisuan. Mungkin hawa boleh dingin, boleh senyap. Tapi tak tahu bahwasanya di dada mereka pasti ada gejolak yang menderu bahkan melebihi kecepatan jet. Di jalan yang tak begitu ramai lalu lalang kendaraan itu, sepasang anak manusia bak meretas satu cerita tersendiri mengenai rasa.


“Memangnya apa yang ingin kau katakan?”. Kembali diam. Sepasang mata berbinar dari siluet lelaki berkaos merah itu seakan meminta suatu jawaban. Namun si wanita hanya dapat memainkan jari-jari tangannya dengan posisi duduk yang masih sama. Nyaman diatas trotoar jalan. “Apa kamu masih mengharapkanku?”. Kali ini si wanita mendongak dan menatap tajam mata lelaki itu.
“Menurutmu?”
“Itu hanya kesalahanku di masa lalu. Tak dapatkah engkau melupakannya dan memulai semua ini seperti biasa. Seperti maumu waktu itu bukan?”. Si wanita kembali menunduk. Menggigit bibir bawahnya dan menarik napas dalam sembari memejamkan mata. Begitu sesak. Ingin rasanya bulir air mata tanpa permisi dijatuhkan. Namun sekuat tenaga ia menahan. Tak mau ia terlihat lemah untuk kedua kalinya oleh rasa sakit ini di depan lelaki yang begitu menjadi prioritasnya.
“Iya. Tak pernahkah kao sadar aku berjuang untuk merelakanmu? Aku berjuang untuk mengenyahkanmu? Tapi apa yang selalu kudapati, lagi-lagi aku kembali padamu. Kepada lingkaran hitam disekitarmu. Aku tahu antara kita yang seperti ini hanya masa lalu. Aku berjuang untuk menerima kenyataan ini, bahkan sampai detik ini”
“Lalu? Kenapa masih mengharapku?”
“Karena aku bodoh. Harusnya aku dapat berjalan tegak menopang dagu di hadapmu. Harusnya aku bisa tertawa sinis untukmu. Harusnya aku bangga dengan diriku yang mampu menolakmu. Yang mampu mempertahankan keberhargaanku kalau hanya menjadi bayangan pacarmu. Tapi, apadaya. Inilah yang kao lihat sekarang. Dan apa engkao merasa terganggu?”
 “Iya”
“Apa yang mengganggumu? Kapan aku mengusikmu?”
“Semuanya. Semuanya yang kao lakukan padaku. Tatapanmu, caramu memperlakukanku, caramu berkata padaku. Semuanya. Semuanya seakan menandakan kao tak suka denganku. Memangnya apa yang pernah ku lakukan sampai kao sebegitunya padaku?”
“Sadarkah kao yang memulai? Aku yang awalnya terluka. Aku yang awalnya kao sakiti. Semua caramu yang ku benci. Sampai akhirnya aku temukan sisi dirimu yang lain. Dirimu yang ku pikir setia, dirimu yang kupikir masih mengharapku, dirimu yang ku pikir masih sama dengan setahun yang lalu. Aku sakit mendengar semua itu. Mendengar kao dekat dengan ini, sms dengan itu, jalan dengan si A, si B. Aku mengikutimu. Sadarkah kao??”
“Memangnya masalah buatmu?”
“Seharusnya tidak. Karena aku bukan siapa-siapamu bukan?. Pacarmu saja tak marah, apa hak ku coba ?”
“Sudah mengerti, mengapa masih bertanya?”
“Terima kasih”. Kemudian wanita itu beranjak, meninggalkan lelaki yang hanya menatap punggung si wanita tanpa kata. Tanpa suara, tanpa panggilan.

Untukmu yang mungkin sekarang sudah berpaling. Aku kecewa. Aku menyesal. Ku habiskan setahun terakhir ini hanya untuk lelaki dingin sepertimu.  Rasanya ingin aku menghilang dan menghapus memori tentangmu. Tak pernah aku mempermalukan diriku sendiri seperti ini. Hanya padamu. Hanya pada engkau mantan sahabatku. 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment