“Akhirnya,
ada kesempatan juga untuk aku”, ucap wanita berkerudung peach itu memecah sepi.
Namun kemudian hening kembali. Sunyi yang tak sekedar hilangnya suara. Namun
lebih kearah dinginya suasana. Dua orang berbeda kelamin yang menghadap arah
bersama nampaknya sedang terkekang dalam kebisuan. Mungkin hawa boleh dingin,
boleh senyap. Tapi tak tahu bahwasanya di dada mereka pasti ada gejolak yang
menderu bahkan melebihi kecepatan jet. Di jalan yang tak begitu ramai lalu
lalang kendaraan itu, sepasang anak manusia bak meretas satu cerita tersendiri
mengenai rasa.
“Memangnya
apa yang ingin kau katakan?”. Kembali diam. Sepasang mata berbinar dari siluet
lelaki berkaos merah itu seakan meminta suatu jawaban. Namun si wanita hanya dapat
memainkan jari-jari tangannya dengan posisi duduk yang masih sama. Nyaman
diatas trotoar jalan. “Apa kamu masih mengharapkanku?”. Kali ini si wanita
mendongak dan menatap tajam mata lelaki itu.
“Menurutmu?”
“Itu hanya
kesalahanku di masa lalu. Tak dapatkah engkau melupakannya dan memulai semua
ini seperti biasa. Seperti maumu waktu itu bukan?”. Si wanita kembali menunduk.
Menggigit bibir bawahnya dan menarik napas dalam sembari memejamkan mata. Begitu
sesak. Ingin rasanya bulir air mata tanpa permisi dijatuhkan. Namun sekuat
tenaga ia menahan. Tak mau ia terlihat lemah untuk kedua kalinya oleh rasa
sakit ini di depan lelaki yang begitu menjadi prioritasnya.
“Iya. Tak
pernahkah kao sadar aku berjuang untuk merelakanmu? Aku berjuang untuk
mengenyahkanmu? Tapi apa yang selalu kudapati, lagi-lagi aku kembali padamu.
Kepada lingkaran hitam disekitarmu. Aku tahu antara kita yang seperti ini hanya
masa lalu. Aku berjuang untuk menerima kenyataan ini, bahkan sampai detik ini”
“Lalu? Kenapa
masih mengharapku?”
“Karena aku
bodoh. Harusnya aku dapat berjalan tegak menopang dagu di hadapmu. Harusnya aku
bisa tertawa sinis untukmu. Harusnya aku bangga dengan diriku yang mampu
menolakmu. Yang mampu mempertahankan keberhargaanku kalau hanya menjadi
bayangan pacarmu. Tapi, apadaya. Inilah yang kao lihat sekarang. Dan apa engkao
merasa terganggu?”
“Iya”
“Apa yang
mengganggumu? Kapan aku mengusikmu?”
“Semuanya.
Semuanya yang kao lakukan padaku. Tatapanmu, caramu memperlakukanku, caramu
berkata padaku. Semuanya. Semuanya seakan menandakan kao tak suka denganku.
Memangnya apa yang pernah ku lakukan sampai kao sebegitunya padaku?”
“Sadarkah kao
yang memulai? Aku yang awalnya terluka. Aku yang awalnya kao sakiti. Semua caramu
yang ku benci. Sampai akhirnya aku temukan sisi dirimu yang lain. Dirimu yang
ku pikir setia, dirimu yang kupikir masih mengharapku, dirimu yang ku pikir
masih sama dengan setahun yang lalu. Aku sakit mendengar semua itu. Mendengar
kao dekat dengan ini, sms dengan itu, jalan dengan si A, si B. Aku mengikutimu.
Sadarkah kao??”
“Memangnya
masalah buatmu?”
“Seharusnya
tidak. Karena aku bukan siapa-siapamu bukan?. Pacarmu saja tak marah, apa hak
ku coba ?”
“Sudah
mengerti, mengapa masih bertanya?”
“Terima
kasih”. Kemudian wanita itu beranjak, meninggalkan lelaki yang hanya menatap
punggung si wanita tanpa kata. Tanpa suara, tanpa panggilan.







0 comments:
Post a Comment