Powered by Blogger.
RSS

[STORY] PART OF LIFE

BAPAK, KARENAMU

Jum’at, 8 Juni 2012
Dear Diary. . .
Kali ini aku ingin berbagi denganmu, sepenggal cerita yang masih ku simpan rapi, bahkan dari Ibu. Karena aku ingin suatu saat nanti ketika aku mulai lupa dan hilang semangat, kamu bisa membantuku mengingatkan kembali awal perjalanan ini.
***


Matahari begitu terik siang ini, seorang gadis berpakaian putih abu-abu terlihat berjalan tergesah-gesah, seolah tak menghiraukan panas sengatan si bintang siang.
“Assalamualaikum, Ibu!”, teriak gadis itu sembari memasuki sebuah rumah di sudut kota Kertosono. “Eh ada tamu”, nada suaranya menciut tatkala ia mendapati sang ibu sedang menerima tamu.
“Oh, ini pasti Irma. Sudah sebesar ini, cantik, tapi mirip Mas Udin ya”, ucap lelaki paruh baya itu diikuti sedikit tawa. Ibu kemudian berdiri, merangkul Irma dan menyuruh duduk di sebelahnya
“Ini Pak Kamto nduk, teman bapakmu saat bertugas di Sumbawa dulu. Ayo salim”, ucap Ibu memperkenalkan si  tamu. “Pasti kamu ndak*) tahu, dulu Pak Kamto datang pas Ibu selamatan lahirnya kamu. Setelah itu bapak dipindahkan ke Jawa, jadinya sudah lama sekali ndak pernah bertemu”. Irma hanya tersenyum simpul.
“Kalau boleh saya tahu, dalam rangka apa Bapak datang kemari?”, tanya Irma tanpa basa-basi.
“Em. . .”, belum sempat Pak Kamto menjawab, Ibu menyahut, “Silaturahmi nduk, memangnya ndak boleh? Pak Kamto baru mendengar kalo bapak sudah ndak ada, makanya waktu Pak Kamto dinas ke Nganjuk sekalian dia mampir kesini. Untungnya ada teman bapak yang masih tahu alamat baru kita”

*) ndak (bahasa jawa) artinya tidak
Raut muka Irma berubah. Kesenduhan itu jelas terpampang dari muka mungilnya. Seakan dia membayangkan kalau Bapak masih hidup, pastilah bapaknya seperti sosok Pak Kamto ini. Mengenakan pakaian abu-abu dengan badge BMKG, gagah dan berwibawa. Namun Irma bahkan  hampir tak mengingat kapan ia terkahir melihat bapaknya itu mengenakan baju dinas. Kalaupun dia menemukan baju yang sama dengan yang dikenakan Pak Kamto, itupun hanya di lemari kayu bapak. Sudah lusuh dan usang. Karena bapak sudah lama berpulang.
“Irma, Bapak kesini sebenarnya ingin memberitahukan kalau pendaftaran AMG sudah dibuka tahun ini”. Ibu memandang Irma dalam, seakan matanya mengisyaratkan banyak hal.
“Oh AMG ya Pak, Irma pernah mendengar memang dari Ibu. Sekolah kedinasan milik BMG yang segala sesuatunya telah ditanggung negara kan Pak?  Tapi Irma sudah diterima di Universitas Negeri Malang lewat jalur PMDK”
“Oh begitu. Bapak juga tidak memaksa. Bapak hanya menawari, mengingat Bapakmu dulu adalah teman seperjuangan di rantau Nak. Siapa tahu kamu ada keinginan untuk menjadi PNS BMG seperti almarhum Bapakmu, kan menjadi PNS sekarang nggak mudah nduk*) ”. Irma hanya tersenyum simpul.
***
Nduk, Ibu wes telpon lek Narti, jarene ndak papa kamu nginep disana pas nanti daftar ulang di UM*))”. Irma hanya terdiam, tertunduk di depan meja belajarnya tanpa menyahut ucapan Ibu. Sampai langkah kaki wanita paruh baya itu mendekati pintu kamar Irma. “Nduk. Ngopo to awakmu iki? Meneng ae diajak Ibu ngomong, Ibu duwe salah nang pean?*)))”. Irma masih terdiam dengan mata yang kali ini memfokuskan pada brosur yang dibawa Pak Kamto tadi siang. “AMG?”, nada Ibu lebih rendah sambil memandang Irma, mencari sepasang mata sang anak, berharap ada jawaban kali ini.
Irma hanya mengangguk lesu.


*) nduk (bahasa jawa) artinya panggilan untuk anak perempuan
*))Nduk, Ibu sudah telepon tante Narti, katanya tidak apa kamu bermalam disana ketika dftar ulang di Um nanti
*)))Nduk. Kamu ini kenapa? Diam saja diajak bicara, Ibu punya salah ke kamu?

Nak, tekane Pak Kamto mau ora bakal murungno rencanamu kuliah ndek Malang. Awakmu wes milih dalan iku, Ibu gak bakal nglarang. Ibu yo gak bakal mekso awakmu kuliah ndek AMG. Ibu ngerti kok nduk, Ibu percoyo, Insyaolloh sukses iku onok nek ndi ae. Masio bapakmu pesiunan BMG, Ibu gak njaluk awakmu nerusno kok nduk. Ibu yo gak bakal tego, adoh tekan anak wedok. Wes gak usah dipikir, biaya kulia iso diusahakno, sing penting awakmu seneng, sing penting awakmu niat. Nek belajar ndang belajar, nek ngantuk ndang turu*) ”, suara Ibu menjauh seiring dengan suara pintu yang ditarik Ibu dari luar. Irma kemudian terhentak, menarik pintu dari arah berlawanan, membuat sang Ibu sedikit terperanjat.
Irma mendapati mata Ibu berkaca. “Bu, sepurane, maturnuwun*))”. Pelukan hangat Ibu seketika meluluhlantakkan kecemasan dan kekhawatiran Irma karena memikirkan kelanjutan nasib kuliahnya kelak. Ibu tetaplah Ibu, sekeras apapun hidup ini, dia tetap akan bijaksana. Berbicara dan bertindak menggunakan hati, membuat sebesar apapun rintangan terasa ringan ketika dia selalu mendampingi. Terimakasih Ibu.
***
Seminggu berlalu sudah sejak kedatangan Pak Kamto ke rumah. Namun Irma masih terus gundah. Semacam ada yang mengganjal ketika dia selalu mendapati Ibunya menangis di tengah malam dalam doa. Dia tahu benar betapa sulit hidup keluarganya memang. Perjuangan Ibu melanjutkan tugas Bapak membesarkan dia dan adiknya seorang diri, mengumpulkan receh demi receh dari toko kelontong depan rumah hanya agar dapur tetap mengepul, karena bila mengandalkan pensiunan Bapak tak akan mungkin cukup.
Ia tahu benar bahwa biaya kulia itu tak murah. Meski dia mendapat beasiswa selama 4 semester atas prestasi akademiknya, itu tak akan membuat Ibunya lantas berhenti membiayainya. Karena biaya hidup selama di Malang pasti
*) Nak, datangnya Pak Kamto tadi tidak akan menggagalkan rencana kuliahmu di Malang. Kamu sudah memilih jalan itu, Ibu tidak akan melarang. Ibu juga tidak akan memaksa kamu kuliah di AMG. Ibu mengerti nduk, Ibu percaya kalo sukses itu bisa dimana saja. Meski bapakmu pesiunan BMG, Ibu tidak akan memintamu meneruskan dia. Ibu juga tidak akan tega jauh dari anak perempuan. Sudah tidak perlu memikirkan biaya kuliah, itu bisa diusahakan, yang penting kamu bahagia dan niat.
*) Ibu, maaf dan terimakasih

jauh lebih mahal bila dibanding uang kuliahnya. Kalau kata orang, bila anak sudah kuliah maka dapur jadi dua, satu buat keluarga, satu buat anak. Irma semakin gelisah acapkali memikirkan ini semua. Antara melanjutkan keinginannya berkuliah di Jurusan Pendidikan Matematika UM Malang atau melanglang ke Ibukota untuk meringankan beban Ibu sekaligus menjadi abdi negara seperti almarhum Bapak-yang ia sendiri tak ada hasrat kesana.
Seperti yang Ibu bilang pada Irma, untuk selalu menjalani apasaja dengan hati. Karena apapun yang datangnya dari nurani, akan memberi ketenangan bila dijalani. Memang Ibu seringkali berkata bahwa kebahagaiaan Irma dan adiknya jauh lebih berharga. Uang dapat dicari, tapi kebersamaan tak pernah dijual dan tak bisa dibeli. Saat itu ia tahu benar hatinya dimana. Namun kuliah bukanlah hal main-main yang bisa dipilih dan kalau bosan bisa berhenti kapan saja, ini adalah pembuka jalan untuk kehidupan di masa depan. Sebagai awal pijakan, tak mungkin dia memilih sembarangan. Apalagi mengingat begitu banyak rintangan yang harus ia hadapi bila terus melanjutkan keinginannya, salah satunya adalah biaya.
***
 


Sumbawa, 28 Oktober 1986
Assalamualaikum wr. wb.
Apakabar Bu? Semoga kesehatan dan rahmat Allah SWT selalu menyertai Ibu disana, begitu pula dengan Rika, Irma, Yoga, dan Sari. Ibu, aku telah sampai di tanah rantau kemarin. Ini hari pertamaku bekerja. Aku baik dan sehat disini. Ternyata Sumbawa tidak seperti yang kita bayangkan sebelumnya Bu. Orang Jawa disini memang sedikit, tapi penduduk aslinya hampir keselurahan ramah padaku. Seperti yang Ibu selalu bilang, dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Jadi Ibu jangan khawatir. Meski aku tak tahu surat ini sampai di tangan Ibu kapan, namun saat menulis surat ini, aku melihat bulan masih bersinar. Aku percaya kita tak sepenuhnya berpisah Bu, karena kita masih bisa melihat bulan yang sama. Doakan anakmu ini sukses di rantau. Salam untuk adik-adik, belajar yang rajin supaya kelak bisa menjadi abdi negara seperti Mas. Sekian surat ini Bu, semoga bisa mengobati kecemasan Ibu.
Waalaikumsalam wr.wb.
                                                                                                                              Dari anakmu,
                                                                                                                                 Chaerudin.



Sumbawa, 5 Januari 1987
Assalamualaikum wr.wb
Ibu, maaf baru bisa mengirim surat kembali. Karena kesibukan dan tugas yang menumpuk sehingga baru hari ini sempat menulis surat. Ibu, sengaja aku sisipkan beberapa lembar uang di surat ini, itu adalah gaji yang kukumpulkan selama disini. Alhamdulilah kali ini aku bisa berbagi dengan Ibu dan adik-adik. Meski tak banyak, tapi itu hasil keringat sendiri. Semoga bisa bermanfaat.
Ibu, menjadi pegawai meteo ternyata menyenangkan. Aku disini tak hanya menjadi observer, tapi juga belajar forecaster. Pasti Ibu bingung apa itu observer dan forecaster. Tapi tak apa yang pasti kedua-duanya sama-sama menyenangkan. Aku belajar banyak di lapangan, melepas balon besar, membuat garis-garis arah angin seperti cacing bertumpuk, dan banyak hal menarik lainnya. Sedikit demi sedikit aku mulai menikmatinya, semoga ini juga bisa menjadi obat rasa sepi dan rindu akan Ibu, adik, dan kampung halaman.
Ibu, tiga bulan lagi lebaran. Semoga aku bisa bersama kalian saat itu. Namun melihat pegawai di kantor sangat minim, psimis bisa berkumpul dengan Ibu dan adik-adik di rumah lebaran tahun ini. Tapi tak apa, mungkin ini harga yang harus dibayar sebagai seorang abdi negara. Sekian surat ini Bu, karena aku masih harus dinas lagi malam ini. Salam untuk Rika, Irma, Yoga, dan Sari, Mas kangen kalian semua.
Waalaikumsalam wr.wb
                                                                                              Dari anakmu,
                                                                                                Chaerudin.
 

Sumbawa, 1 Agustus 1988
Assalamualaikum wr.wb.
Ibu, Udin kangen Ibu. Bagaimana keadaan Ibu? Aku ingin mendengar suara Ibu. Bu, aku sangat menikmati pekerjaan ini. Hampir setiap hari aku belajar dan belajar agar terus berkembang. Ternyata ini bukan semata sebuah pekerjaan, namun pengabdian. Sekarang aku sudah dipercaya membuat ramalan cuaca sendiri Bu, rasanya bangga dan puas ketika hasil ramalan kita benar. Meski BMG masih dipandang sebelah mata, tapi aku yakin suatu saat nanti banyak orang yang membutuhkan dan memanfaatkan hasil kerja kami. Kalaupun bukan aku, aku harap ada banyak orang lain disana yang bersemangat sepertiku untuk memajukan isntansi ini. Agar mereka juga mampu bercerita pada Ibu mereka semenggebu-gebu aku saat hasil kerjanya diakui. Amin.
Bu, aku menulis surat ini sebenarnya ingin memberitahukan bahwa dalam waktu dekat akan ada pegawai yang mendapat kesempatan berangkat Diklat ke luar negeri dari kantor kami. Semoga saja kesempatan itu diamanahkan padaku. Agar aku benar-benar bisa memberi yang terbaik untuk instansi yang telah memberiku banyak harapan ini. Namun bila mendengar kata luar neger, rasanya seperti mau ditempatkan dulu. Bukan takut atau apa, tapi aku cemas kalau semakin jauh dari rumah. Ibu seorang diri disana, adik-adik juga masih kecil, disini saja aku masih belum bisa menengok Ibu dan adik-adik. Apalagi jika semakin jauh. Aku takut tak bisa memegang amanat terakhir Bapak untuk menjaga Ibu dan adik-adik. Doakan anakamu selalu, semoga diberikan jalan terbaik dari Allah SWT. Amin.
Wassalamualaikum wr.wb.
                                                                                              Dari anakmu,
                                                                                                Chaerudin.

 

Jakarta, 27 November 1992
Assalamualaikum wr. wb.
Bu, apa kabar? Semoga kesehatan dan kebahagiaan selalu mengiringi  Ibu disana. Rasanya telah lama sekali aku t ak bersurat pada Ibu. Aku dan Rita sehat disini Bu. Kami bahagia. Terlebih lagi ketika semalam aku mengantarnya ke bidan desa, aku mendapati sebuah kabar bahagia. Ibu akan menjadi nenek. Rita alhamdulilah telah hamil dua bulan. Sayangnya Ibu tak ada disini untuk menjadi pembimbing kami. Doakan cucumu sehat selalu dan bisa menemui neneknya kelak. Bisa secantik neneknya atau seteladan kakeknya.
Tak terasa kini aku benar-benar akan menjadi seorang Bapak Bu. Semoga aku bisa menjadi teladan yang baik untuk anakku kelak. Menjadi sosok seorang Bapak seperti almarhum Bapak, yang meski telah lama berpulang namun tingkah laku, semangat, dan wejangannya masih membekas bahkan sampai detik ini. Aku ingin cucu Ibu kelak bisa tumbuh menjadi orang yang lebih baik dari Bapaknya. Karena betapa bahagia bukan ketika kebaikan yang selalu kita ajarkan pada anak akan menjadi pegangan hidup baginya, sama seperti yang kurasakan sekarang.
                Sekian Bu surat ini. Aku hanya tak bisa bercerita betapa bahagianya saat mendengar Rita hamil. Mungkin hanya dengan Ibu aku bisa berbagi dengan lapang. Secepatnya kami akan pulang ke Madiun Bu dengan menimang cucu buat Ibu.
Wassalumalaikum wr. wb.
                                                                                                                          Dari kami ,
                                                                                                         Chaerudin, Rita, dan cucumu.

***
Bu, Irma angsal nyuwun arto*)?”, ucap Irma mengawali percakapan dengan sang Ibu yang sedang sibuk membereskan warung malam itu.
Piro nduk? Kalo rodo akeh ora iso mene to*))?”, jawab Ibu datar tanpa menoleh ke arah Irma.
Pitung puluh limo ewu buk*)))
*) Bu, Irma boleh meminta uang?
*)) Berapa nduk? Kalau agak banyak tidak bisa besok kan?
*))) Tujuh puluh lima ribu rupiah Bu
Gawe opo*)?”
“Daftar AMG”. Kontan Ibu menghentikan tangannya yang sedari tadi sibuk membereskan barang-barang dan sedetik kemudian menatap anak gadisnya itu dalam. Ketika melihat sang Ibu seakan beribu pertanyaan bertubi menyerangnya. Bukan hal yang biasa memang, mengingat selama ini sang Ibu tahu benar dimana Irma menaruh hatinya untuk melanjutkan kuliah. “Kenapa Bu? Ono sing salah*))?”
Ibu kemudian terdiam dan melanjutkan kembali barang-barang yang masih di gantung di depan pintu warung. Irma hanya terdiam. Namun senyum tulus dari bibir Ibu cukup memberi jawaban atas segala kegundahannya selama ini.
                                                                            By: Radirma Karuniawati
***
Ada yang tak ibu tahu. Iyah, aku menyimpan surat-surat Bapak, bahkan sampai saat ini aku menulis kembali cerita itu. Surat yang tak pernah di berikan langsung oleh Ibu kepadaku, namun surat yang sengaja Tuhan perlihatkan ketika kebimbangan menghampiriku kala itu. Alasan yang mungkin aku tak pernah bisa ungkapkan secara terang-terangan kepada Ibu kenapa aku memilih jalan ini. Sederhana. Karena aku hanya ingin menjadi seorang anak yang lebih baik dari Bapaknya, sama seperti Bapak.
Namun bukan berati aku tak ingin menjadi seperti Ibu. Karena sosokmulah aku menjadi seperti ini, menjadi gadis mandiri yang mampu berjuang bahkan di Ibukota seorang diri tanpa sanak family.  Suatu saat nanti akan ku kembalikan surat-surat itu padamu Bu, ku ceritakan semua cerita diatas oleh mulutku sendiri, karena akupun ingin tahu alasan apa yang membuat Ibu tak pernah memintaku bahkan menyuruhku langsung untuk masuk AMG.  Apa Ibu tak pernah membaca surat Bapak? Atau ada  bagian cerita lain dari Bapak yang tak harus aku tahu ? Namun saat aku telah bercerita nanti, ingatkan aku kalau surat itu harus tetap di lemari kayu Bapak seperti sediakala, diantara semua barang peninggalan Bapak.
. . dan benar adanya, bahwa Tuhan telah mempersiapkan jalan terindah bagi setiap umatNya yang masih percaya. Terimaksih telah mau menemaniku berbagi secuwil kisah di masa lalu J. Nite.
                                                                               


*) Buat apa ?
*)) Ada yang salah ?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment