AKU YANG PUNYA CINTA
Mencintainya yang tak terpikir akan berakhir. Meski kini sela jemari tangan sudah memiliki pasangannya, tetap saja aku memilih dia yang tak pernah menengokku, dia yang ku tahu tak pernah megerti maksud hatiku. Dan aku tak tahu sampai kapan sela jemari ini ku khianati demi mendapatkan cintanya. Untuk genggaman tangan yang selalu menemaniku, maafkan kebodohanku…
Bingkai foto yang kupegang perlahan jatuh. Aku membiarkan. Tawa-tawa lepas yang terbingakai didalamnya membuatku menerawang, mengingatnya. Mereka, sahabatku. Tak ingin aku mengkhianati mereka hanya karena aku mencintai salah satunya.
Alunan potongan lagu BCL Tentang Kamu menggetkan. “My Bie calling… “ nampak di layar N 70 Blackku.
“ Hallo? Bie? Gi ngapain?”, sapa yang diseberang.
“Mau tidur. Maaf buat yang tadi ya?”
“Iya. Tak apa koq. Mungkin memang terlalu cepat buat kamu menerima lamaranku. Maaf. Seharusnya aku lebih bisa mengerti kamu”
Tersenyum lega aku mendengarnya. “Makasih banget ya Bie mau ngertiin aku. Kamu ‘kan tahu, aku ingin ngebahagia’in keluarga dulu dengan lihat aku sukses. Pasti ada waktunya koq”
“Iya aku tahu. Udah gi kamu tidur! Besok ‘kan harus sekolah, ‘ntar kesiangan lho!”
“Iya. Bie juga tidur ya. Jangan begadang! Nice dream.”
“Eh, besok di jemput?”
“Terserah Mas”, jawabku singkat mengakhiri. Tut…tut…tut. Putus.
Segera ku merebahkan tubuh diatas kasur kesayanganku. Empuk. Memandangi langit-langit kamar yang terang karena sinar lampu. Alunan lagu SO7, lihat, dengar, rasakan membawaku mengingat kembali pada kejadian 6 bulan yang lalu itu.
Aryo Idham Wibowo, my Bie ku. Dia sayangku. Dia penjagaku. Lelaki tampan dengan masa depan cemerlang, seorang Ajudan Walikota. Masih teringat pertama bertemu dengannya, di Malang, Matos penuh kenangan. Berawal dari ketidaksengajaan menginjak kakinya saat mengantre tiket di 21, membuat kami bertatap muka. Kamipun berkenalan, hingga berakhir seperti saat ini.
Sebuah kotak kecil berbentuk hati yang berisi cincin disodorkan kepadaku malam tadi. Kupandangi heran, dia mengerti.
“Mau mendampingiku?”, Mas Idham bertanya resah.
Kutatap kedua matanya lekat. Mencoba megerti maksud semua ini. Keningkupun megerut. “Bercanda ya? Nggak lucu tahu! Apa-apa’an sih?”, sergahku mencairkan suasana sembari mendorong kotak itu kembali.
“Punya alasan mengapa menolak?”
Aku menggeleng ragu. “Pasti ada waktunya koq Mas”, jawabku singkat menolak. Untunglah, Mas Idham bukan orang yang posesif, yang setiap pertanyaanya harus dijawab dengan sangat memuaskan. Andai saja dia tahu alasannya mengapa, rasanya tak adil membuatnya terluka sendiri. Maaf.
Akupun tertidur setelah mengingat semua itu.
***
“APA????? LO DILAMAR!!!!”, pekik Teta berhasil mengagetkan seisi kelas pagi ini. Lekas kubungkam mulut comelnya rapat. Memalukan sekali. Sesungging senyum kudapun ku pasang agar mereka tak panasaran dengan yang kami ributkan.
“Gila lo ya! Bikin malu aja! Gag gue terusin lo!”,ancamku padanya.
“Iya ni! Diam aja kali, bikin orang malu tahu gag!”, Ria membelaku.
“Terus gimana? Lo terima ‘kan?”, sambar Tisa penasaran.
“Gila aja! Masih tak ingin kawin muda ni!”, jawabku.
“Alasan apa sampe’ nolak pinangan mas Idham? Dia baik kali. Tampan, masa depan cemerlang pula. Sayang tuh! Disambar orang baru ngerasa lo!”. Jlek. Ucapan Tisa tepat mengenai lubuk hatiku. Mengapa orang seperti Tisa saja–yang tak begitu peduli dengan cinta bisa berkata begitu, bagaimana denganku? Kemana pikiranku kemarin saat menolaknya? Bahkan aku tak mampu mengatakan alasannya mengapa.
“Hei! Nglamun aja lho! Udah bel tuh!”, ucap Ria menyadarkan. Akupun segera kembali ka bangkuku.
“Jangan bilang karena cowok itu Lo nolak mas Idham! Dia cuman mimpi kali Sev!”. Wulan mencegatku dan mengingatkan. Aku manatapnya. Maaf Wulan. Andai saja kamu tahu yang sebenarnya tentang cowok yang kamu kira cuman mimpiku itu.
“Iya”
“Napa sih tadi ribut-ribut ?”, tanya Dani mengagetkan sembari menyeret bangku lalu mendudukinya.
Aku gelagapan. Kaget. “Ohh, nggak ada apa-apa . Biasalah anak-anak”, jawabku mencoba tenang. Dani mengangguk mengerti. Dan sepanjang pelajaran pertamapun aku terdiam.
“Eh, aku lusa manggung lho! Kamu nggak pengen lihat?”, Dani membuka obrolan.
Aku menarik nafas. “Nggak tau lah! Liat nanti saja!”
“Lo napa sih?”, tanya Dani singkat, namun berhasil membuatku kaget dan menolehnya. Kami pun bertatap muka. Dalam. Baru kali ini Dani bertanya tentangku, tentang mengapa aku. Aku tak kuasa. Segera kupalingkan wajah. Mengingat betapa cueknya dia selama ini, betapa tak menghiraukannya dia padaku, akupun kembali terdiam.
Tiga tahun sudah kami bersahabat. Aku, Dani, Tisa, Ria, Prama, dan Niko. Menjalani masa SMA dengan hal-hal yang kami anggap menyenangkan, menghibur, meski orang lain tak berpikiran sejalan. Namun, setahun terakhir ,terasa ada yang berbeda diantara kami, aku dan Dani. Aku merasakan hal yang tak biasa dari sekedar bersahabat dengannya. Dan aku tak mau ini dikatakan cinta. Aku tak ingin merusak persahabatan kami, dan tak ingin pula mengecewakan yang lain. Aku Dilema.
Beberapa waktu terakhir ini semakin membuatku tersiksa. Tepatnya ketika aku memutuskan menerima Mas Idham menjadi the right one untukku. Menjalani kehidupan yang selelu bercabang. Antara Mas Idham dan Dani, antara Si penyayang dan Si cuek. Dan aku terjebak dalam jurang hatiku sendiri. Merasakan betapa menyenangkannya di manja olehseorang Mas Idham dan merasakan betapa dewasanya aku saat bersama Dani yang childish. Sakit. Bahkan seringkali hati dan pikiran tak sejalan, ingin sekali mengakhiri semua ini dengan bahagia. Namun sulit.
“Hello!”, lagi-lagi Dani mencairkan suasana. “Udah! Nggak usah dipikir! Utang kan bisa dibayar”
Aku menolehnya cemberut,”Apa’an sih ?”
“Gimana? Udah dapat keputusan mau ikut aku manggung?”
“Kapan?”
“Kemana aja sih Lo! Gag denger Lo ya dari tadi? Lusa kali!”, Dani emosi, kembali kasar seperti biasanya. Dan aku ‘tlah terbiasa olehnya.
“Oke. Aku usahain”. Percakapun berakhir.
***
“Bie, gimana? Lusa bisa kan?”
“Heh? Iya Mas. Apa?”, dan untuk kesekian kalinya aku dikagetkan dari lamunan.
“Enggak. Mas cuman nanya. Kamu jadi ‘kan nemenin Mas ke arisan keluarganya Mas lusa nanti?”
“Bukannya masih dua hari lagi?”
Mas Idham tiba-tiba mencubit pipiku gemas,“ Sayang! Dua hari lagi tuh lusa”
“Ohh iya, lupa. Maaf”,timpalku manja. Degg! Dani? Bagaimana dengan manggungnya? Ini tawaran terbaikku, dan aku tak mau melewatkan penawaran darinya. “Ehm… Mas? Emang penting banget ya acara itu buat aku?”
“Terserah kamu nanggepinnya gimana. Buat aku sih itu penting banget. Karena untuk pertama kalinya aku ngenalin cewek ke keluarga besar aku”, nada Mas Idham naik.
Aku terdiam. Saklek.
“Kenapa? Kamu nggak bisa?”, Mas Idham kembali meninggikan nadanya. “Waktunya belum ada?”
Aku menghela nafas panjang. “Aku usahain, tapi gag janji! Udah! Aku ngantuk! Aku masuk dulu!,”jawabku sinis. Akupun meninggalkan dia sendiri di beranda rumah. Selalu seperti ini, selalu aku yang menghindar dari masalah.
Tiba-tiba Mas Idham menarik tanganku. “Tunggu!”
Aku berhenti tanpa menolehnya.
“Maafin aku. Seharusnya aku nggak terlalu maksain kamu. Aku hanya ingin kamu ngerti dengan keaadan aku. Umur yang terlalu jauh terpaut di antara kita, keinginan Bunda melihat aku menikah, dan ketakutanku kalau suatu saat nanti seseorang merebutmu dari aku, membuat aku sangat-sangat egois dan memaksakan kehendak ke kamu. Delapan tahun memang bukan selisih umur yang sedikit Sev, wajar kalau kamu ragu dengan kita, dengan aku, yang sudah bukan remaja lagi. Tapi asal kamu tahu, aku bahagia bisa menemukan kamu”
“Ya udah. Cepet pulang gi. Aku ngantuk”, tetap aku tak menolehnya. Bukan apa-apa. Aku tak tega melihat cowok sebaik dan sepengertian Mas Idham terus menerus mengalah.
***
Lusa itupun datang. Sekitar jam setengah 7 malam Dani datang dengan teman-teman bandnya menjemputku. Celana skiny ungu, kaos lengan pendek insider dan sepatu casual Nike membuatku terlihat benar-benar casual. Tak lupa aku menenteng hoody full print di tangan untuk jaga-jaga kalau saja nanti pulang malam, kostum yang kupikir match dengan musik. Mama hanya melihatku dan tersenyum. Aku harap dia tak tahu aku akan pergi kemana, karena aku takut tak diizinkan kalau dia tahu.
“Assalamu’aliakum!”, seruku pamit. Lekas aku duduk di belakang Dani yang mengendara. Duduk menyamping. Sepeda Danipun meluncur.
Zrrt…zrrt…zrrt. Ponselku begetar. “Hallo?”, aku menyapa.
“Bie, ada dimana?”, Mas Idham merespon.
“Di jalan Mas”
“Lho? Ngapain? Memangnya kamu berangkat sendiri bisa nyampe’ ke rumah aku?”, Mas Idham terdengar khawatir. “ Ni aku mau jemput kamu lho!”
“Ohh, aku lupa bilang Mas. Ibunya temenku lagi sakit keras, ni aku diajakin anak-anak buat jengukin. Maaf ya Mas! Lain kali aku pasti dateng koq!”, lancar aku mengarang.
“I..Iya nggak papa. Ati-ati. Salam buat ibunya temen kamu itu ya. Cepet sembuh”. Tut…tut..tut.
Maaf.
Setelah cukup lama menunggu, Dani dkk pun beraksi. Buk… tar…buk… tar…buk…teng… teng. Gebukan drum dan petikan gitar menggema. Akupun larut didalamnya. Jantung berdebar dan telinga mengeras. Riuh. Namun aku menikmatinya. Dani dkk mengalunkan ceria nya JRockz, sama seperti secerianya aku bisa melihat kembali Dani bersemangat menabuh drum di stage sana. Rindu akan suasana seperti ini yang ‘tlah lama aku nanti. Anak matakupun terus mengekor ke arah Dani. Tampan.
Dan malam itupun berjalan seperti yang semestinya. Menyenangkan sekali dapat melihat Dani penuh ekspresi seperti itu. Bahkan, jahatnya aku yang tak merasa sedikitpun bersalah pada Mas Idham. Tapi inilah sebuah keputusan. Tanpa sadar aku telah menomorduakannya.
***
Tut… tut… tut… nada SMS membangunkanku. Dengan mata sedikit sayup dan roh yang belum kembali utuh aku mencoba menggapi hapeku. Ku buka SMS itu.
From : My Bie
Meski tak seindah yang kau mau. Tak sesempurna cinta yang semestinya. Namun aku mencintaimu. Sungguh mencintaimu. Begitu berat, begitu lekat perasaanku kepadamu .
Mngkin ni semwa hrus b’akhir. Kamu mmang t’lalu jauh dri aku.
Aku mengucek mata, mencoba sadar dari tidur ini. Ku baca ulang. Dan memang benar apa yang terlihat. Aku penasaran, dan mencoba menerka apa yang terjadi kemarin mungkin telah diketahuinya. Entahlah.
“Kakak! Ayo bangun!”, mama berteriak membangunkan. “O ya, ini mama menemukan surat di depan pintu buat Kakak. Cepet bangun Kak!”. Lekas aku keluar kamar dan menghampiri mama untuk mengambil surat itu.
Di tengah rasa rinduku yang menggebu
Kau bersama dia
Di saat-saat ku menunggu dirimu
Kau bersama dia
Bila kau cinta aku, mengapa kau tipu diriku tuk bersama dia ?
Kau bunuh hatiku saat ku bernafas untukmu
Kau kebanggaan aku yang TEGA menipuku
Yang TEGA menipuku!
Ini salahku atau salahmu ?aku sendiri tak tahu. Namun yang ku tahu pasti aku begitu menyanyangimu hingga ketika aku tahu ini tak berbalas sepenuhnya, aku rapuh, aku jatuh, aku sakit. TUHAN mungkin telah memiliki rencanaNYA, sebagian orang menerima, dan yang lain mungkin tidak. Termasuk aku yang tak menginginkan ini berkahir. Take Care. Maksih buat semuanya.
Luvv U
Aku makin kaget. Penasaran yang mencapai puncaknya. Mungkinkah dia mengerti apa yang terjadi? Namun, memang tak patut aku menyalahkan, ini sepenuhnya salahku, kebodohanku. Aku telah memilih Dani, dan untuk saat ini hanya dia. Dani yang telah berubah sikap membuatku semakin yakin padanya. Dan semakin berharap cintaku suatu saat akan dimengerti olehnya, oleh Dani.
Berulang kali aku mencoban menelpon Mas Idham, tetap saja dia tak mengangkat teleponku, bahkan dia menon-aktifkan hapenya. Setidaknya, jika ini adalah ujung perpisahan, aku menginginkan dia menerima keputusanku dengan ikhlas, dan berharap ketegaanku tak akan menjadi tombak yang terus-menerus menusukku dikemudian hari. Aku ingin menjelaskan ini semua.
Aku pening. Merasa sangat bersalah.
***
Sekolah seperti biasanya, lengang saat aku datang. Kulihat jam tanganku, 06.17 WIB. Pantas masih sepi, hanya segelintir anak yang terlihat. Segera aku menuju kelas yang terletak di samping toilet itu. Tiga orang saja yang menghuninya, empat denganku. Kemudian aku duduk dan meletakkan kepalaku di tangan yang berda di atas meja. Masih terasa pening.
“Napa lo?”, tak lama Tisa menegur.
Aku mengankat kepala. “Nggak, cuman pusing”
“Ke UKS sana. Mau aku anter?”
“Nggak deh, aku jalan sendiri aja”. Segera aku menuju ke tempat yang disarankan Tisa. Sesampainya, aku merebahkn diri.
Sekitar setengah jam kemudian aku berniat kembali ke kelas. Namun, Bruk…. Aku bertabrakan dengan seseorang. Dani. Dia memar.
“Kamu kenapa Dan?”, tanyaku seraya mencoba menyingkirkan rambut yang menutupi luka di jidatnya. Dia menangkis tanganku. “Kamu napa sih?”
“Lo pikir, gue kayak gini karna siapa?”
“Gue?”, terkaku.
“Sev, kalo’ lo anggep selama ini kita lebih dari sahabat, gue pikir lo salah! Gue udah punya cewek! Dan tak akan pernah ada hubungan lebih diantara kita! Tinggalin gue! Lupain gue! Gue nggak mau terus disalahin untuk kesalahan yang tak pernah gue lakuin!”, Danipun lari menjauh setelah menatapku tajam. Mungkin saat ini, dunia hancurpun aku takkan peduli. Sakit yang lebih dari pening. Sakit yang sangat. Dia yang ku pilih ternyata tak memilihku.
***
Dengan langkah gontai aku pulang ke rumah, bahkan mungkin sedari tadi ketika Dani dengan jelas-jelasnya menolakku, aku sudah gontai, tak bertenaga.
“Assalamualaikum”, lemas aku menyapa.
“Kenapa Kak?”, mama sepertinya mengerti keaadanku. Memang naluri seorang ibu. Diapun menghampiriku. Segera aku memeluknya erat. Tangispun tak terbendung lagi. Dan wanita paruh baya ini terus-menerus membelaiku. Terasa damai sasaat. Mama menuntunku ke arah sofa, lalu dia menyuruhku duduk. Aku masih terisak-isak.
“Kakak kenapa?”
Aku masih terisak-isak dan belum sempat menjawab pertanyaan mama. Mama hanya diam melihatku, kemudian dia masuk ke dalam untuk mengambil segelas air. Ku teguknya.
“Sev nggak tau ma Sev ini kenapa, tapi hati Sev sakit Ma, sakiiiiit..... banget”, aku kembali terisak, dan lagi-lagi mama membelaiku hangat.
“Mama kan sering bilang sama Kakak, kalau Kakak udah bisa ngrasian yang namanya cinta sama seseorang, berarti Kakak juga harus siap sakit hati. Dan kalau sekarang Kakak sakit ati karna cinta, Kakak nggak bisa dong nyalahin sapa-sapa, mestinya Kakak udah tau yang harusnya Kakak lakukan. Kakak mestinya sekarang udah harus bisa tanggung jawab, Kakak ‘kan sekarang udah gede. Kakak udah mau kuliah ‘kan?”, mama menuturiku panjang lebar. Aku menarik nafas panjang, mencoba mencernanya.
“Sev sedih bukan karna cinta Ma, tapi karna kebodohan Sev! Sev memilih orang yang tak pernah menoleh Sev dan begitu mudahnya membiarkan orang yang menyayangi Sev meninggalkan Sev, makanya Ma sekarang Sev nyesel. Nyesel banget”
Mama tersenyum melihatku. “Memang Kakak yang punya cinta, Kakak yang berhak memutuskan ingin mencintai siapa. Tapi, Kakak mesti ngerti, cinta itu akan membawa bahagia kalau tercipta dari dua hati. Kakak nggak bisa kalau memaksa seseorang mencintai Kakak, dan begitupun sebaliknya. Ya mulai sekarang, Kakak mesti inget pesan Mama baik-baik, cintai orang yang mencintai Kakak, namun Kakak juga mesti jujur sama diri sendiri, jangan memaksa kalau memang dia tak baik buat Kakak. Kejujuran memang sakit, tapi itu tak akan membawa masalah di kemudian hari. Percaya deh sama Mama”
Akupun tersenyum lega. Aku begitu bangga memiliki ibu seperti dia. Dia tegar, dia kuat, dia membuat kami–anak-anaknya percaya bahwa menjadi single parent tak selamanya buruk. Mama, kemanapun aku pergi dengan membawa segunung lukapun, akhirnya dirimu jualah yang menemukanku dan kembali menguatkanku.
Untuk semua yang telah terjadi diantara aku, Mas Idham, dan Dani adalah sebuah pelajaran. Dan setiap pelajaran mestinya selalu dimengerti dan diterapkan agar dapat menuntun kita untuk tidak jatuh dalam sebuah kesalahan yang kedua kalinya. Akupun patut bersyukur pernah menemukan seseorang seperti dia, Idham Aryo Wibowo. Jejak langkah yang dia tinggal mendewasakanku.
“O ya Sev, Mama udah bilang belom kalau kemarin lusa Idham ke rumah dan bertanya kamu kemana? Tapi mama udah bilang ke dia koq, kalau kamu pergi sama Dani lihat konser, mama bener ‘kan?”.
“Mau tidur. Maaf buat yang tadi ya?”
“Iya. Tak apa koq. Mungkin memang terlalu cepat buat kamu menerima lamaranku. Maaf. Seharusnya aku lebih bisa mengerti kamu”
Tersenyum lega aku mendengarnya. “Makasih banget ya Bie mau ngertiin aku. Kamu ‘kan tahu, aku ingin ngebahagia’in keluarga dulu dengan lihat aku sukses. Pasti ada waktunya koq”
“Iya aku tahu. Udah gi kamu tidur! Besok ‘kan harus sekolah, ‘ntar kesiangan lho!”
“Iya. Bie juga tidur ya. Jangan begadang! Nice dream.”
“Eh, besok di jemput?”
“Terserah Mas”, jawabku singkat mengakhiri. Tut…tut…tut. Putus.
Segera ku merebahkan tubuh diatas kasur kesayanganku. Empuk. Memandangi langit-langit kamar yang terang karena sinar lampu. Alunan lagu SO7, lihat, dengar, rasakan membawaku mengingat kembali pada kejadian 6 bulan yang lalu itu.
Aryo Idham Wibowo, my Bie ku. Dia sayangku. Dia penjagaku. Lelaki tampan dengan masa depan cemerlang, seorang Ajudan Walikota. Masih teringat pertama bertemu dengannya, di Malang, Matos penuh kenangan. Berawal dari ketidaksengajaan menginjak kakinya saat mengantre tiket di 21, membuat kami bertatap muka. Kamipun berkenalan, hingga berakhir seperti saat ini.
Sebuah kotak kecil berbentuk hati yang berisi cincin disodorkan kepadaku malam tadi. Kupandangi heran, dia mengerti.
“Mau mendampingiku?”, Mas Idham bertanya resah.
Kutatap kedua matanya lekat. Mencoba megerti maksud semua ini. Keningkupun megerut. “Bercanda ya? Nggak lucu tahu! Apa-apa’an sih?”, sergahku mencairkan suasana sembari mendorong kotak itu kembali.
“Punya alasan mengapa menolak?”
Aku menggeleng ragu. “Pasti ada waktunya koq Mas”, jawabku singkat menolak. Untunglah, Mas Idham bukan orang yang posesif, yang setiap pertanyaanya harus dijawab dengan sangat memuaskan. Andai saja dia tahu alasannya mengapa, rasanya tak adil membuatnya terluka sendiri. Maaf.
Akupun tertidur setelah mengingat semua itu.
***
“APA????? LO DILAMAR!!!!”, pekik Teta berhasil mengagetkan seisi kelas pagi ini. Lekas kubungkam mulut comelnya rapat. Memalukan sekali. Sesungging senyum kudapun ku pasang agar mereka tak panasaran dengan yang kami ributkan.
“Gila lo ya! Bikin malu aja! Gag gue terusin lo!”,ancamku padanya.
“Iya ni! Diam aja kali, bikin orang malu tahu gag!”, Ria membelaku.
“Terus gimana? Lo terima ‘kan?”, sambar Tisa penasaran.
“Gila aja! Masih tak ingin kawin muda ni!”, jawabku.
“Alasan apa sampe’ nolak pinangan mas Idham? Dia baik kali. Tampan, masa depan cemerlang pula. Sayang tuh! Disambar orang baru ngerasa lo!”. Jlek. Ucapan Tisa tepat mengenai lubuk hatiku. Mengapa orang seperti Tisa saja–yang tak begitu peduli dengan cinta bisa berkata begitu, bagaimana denganku? Kemana pikiranku kemarin saat menolaknya? Bahkan aku tak mampu mengatakan alasannya mengapa.
“Hei! Nglamun aja lho! Udah bel tuh!”, ucap Ria menyadarkan. Akupun segera kembali ka bangkuku.
“Jangan bilang karena cowok itu Lo nolak mas Idham! Dia cuman mimpi kali Sev!”. Wulan mencegatku dan mengingatkan. Aku manatapnya. Maaf Wulan. Andai saja kamu tahu yang sebenarnya tentang cowok yang kamu kira cuman mimpiku itu.
“Iya”
“Napa sih tadi ribut-ribut ?”, tanya Dani mengagetkan sembari menyeret bangku lalu mendudukinya.
Aku gelagapan. Kaget. “Ohh, nggak ada apa-apa . Biasalah anak-anak”, jawabku mencoba tenang. Dani mengangguk mengerti. Dan sepanjang pelajaran pertamapun aku terdiam.
“Eh, aku lusa manggung lho! Kamu nggak pengen lihat?”, Dani membuka obrolan.
Aku menarik nafas. “Nggak tau lah! Liat nanti saja!”
“Lo napa sih?”, tanya Dani singkat, namun berhasil membuatku kaget dan menolehnya. Kami pun bertatap muka. Dalam. Baru kali ini Dani bertanya tentangku, tentang mengapa aku. Aku tak kuasa. Segera kupalingkan wajah. Mengingat betapa cueknya dia selama ini, betapa tak menghiraukannya dia padaku, akupun kembali terdiam.
Tiga tahun sudah kami bersahabat. Aku, Dani, Tisa, Ria, Prama, dan Niko. Menjalani masa SMA dengan hal-hal yang kami anggap menyenangkan, menghibur, meski orang lain tak berpikiran sejalan. Namun, setahun terakhir ,terasa ada yang berbeda diantara kami, aku dan Dani. Aku merasakan hal yang tak biasa dari sekedar bersahabat dengannya. Dan aku tak mau ini dikatakan cinta. Aku tak ingin merusak persahabatan kami, dan tak ingin pula mengecewakan yang lain. Aku Dilema.
Beberapa waktu terakhir ini semakin membuatku tersiksa. Tepatnya ketika aku memutuskan menerima Mas Idham menjadi the right one untukku. Menjalani kehidupan yang selelu bercabang. Antara Mas Idham dan Dani, antara Si penyayang dan Si cuek. Dan aku terjebak dalam jurang hatiku sendiri. Merasakan betapa menyenangkannya di manja olehseorang Mas Idham dan merasakan betapa dewasanya aku saat bersama Dani yang childish. Sakit. Bahkan seringkali hati dan pikiran tak sejalan, ingin sekali mengakhiri semua ini dengan bahagia. Namun sulit.
“Hello!”, lagi-lagi Dani mencairkan suasana. “Udah! Nggak usah dipikir! Utang kan bisa dibayar”
Aku menolehnya cemberut,”Apa’an sih ?”
“Gimana? Udah dapat keputusan mau ikut aku manggung?”
“Kapan?”
“Kemana aja sih Lo! Gag denger Lo ya dari tadi? Lusa kali!”, Dani emosi, kembali kasar seperti biasanya. Dan aku ‘tlah terbiasa olehnya.
“Oke. Aku usahain”. Percakapun berakhir.
***
“Bie, gimana? Lusa bisa kan?”
“Heh? Iya Mas. Apa?”, dan untuk kesekian kalinya aku dikagetkan dari lamunan.
“Enggak. Mas cuman nanya. Kamu jadi ‘kan nemenin Mas ke arisan keluarganya Mas lusa nanti?”
“Bukannya masih dua hari lagi?”
Mas Idham tiba-tiba mencubit pipiku gemas,“ Sayang! Dua hari lagi tuh lusa”
“Ohh iya, lupa. Maaf”,timpalku manja. Degg! Dani? Bagaimana dengan manggungnya? Ini tawaran terbaikku, dan aku tak mau melewatkan penawaran darinya. “Ehm… Mas? Emang penting banget ya acara itu buat aku?”
“Terserah kamu nanggepinnya gimana. Buat aku sih itu penting banget. Karena untuk pertama kalinya aku ngenalin cewek ke keluarga besar aku”, nada Mas Idham naik.
Aku terdiam. Saklek.
“Kenapa? Kamu nggak bisa?”, Mas Idham kembali meninggikan nadanya. “Waktunya belum ada?”
Aku menghela nafas panjang. “Aku usahain, tapi gag janji! Udah! Aku ngantuk! Aku masuk dulu!,”jawabku sinis. Akupun meninggalkan dia sendiri di beranda rumah. Selalu seperti ini, selalu aku yang menghindar dari masalah.
Tiba-tiba Mas Idham menarik tanganku. “Tunggu!”
Aku berhenti tanpa menolehnya.
“Maafin aku. Seharusnya aku nggak terlalu maksain kamu. Aku hanya ingin kamu ngerti dengan keaadan aku. Umur yang terlalu jauh terpaut di antara kita, keinginan Bunda melihat aku menikah, dan ketakutanku kalau suatu saat nanti seseorang merebutmu dari aku, membuat aku sangat-sangat egois dan memaksakan kehendak ke kamu. Delapan tahun memang bukan selisih umur yang sedikit Sev, wajar kalau kamu ragu dengan kita, dengan aku, yang sudah bukan remaja lagi. Tapi asal kamu tahu, aku bahagia bisa menemukan kamu”
“Ya udah. Cepet pulang gi. Aku ngantuk”, tetap aku tak menolehnya. Bukan apa-apa. Aku tak tega melihat cowok sebaik dan sepengertian Mas Idham terus menerus mengalah.
***
Lusa itupun datang. Sekitar jam setengah 7 malam Dani datang dengan teman-teman bandnya menjemputku. Celana skiny ungu, kaos lengan pendek insider dan sepatu casual Nike membuatku terlihat benar-benar casual. Tak lupa aku menenteng hoody full print di tangan untuk jaga-jaga kalau saja nanti pulang malam, kostum yang kupikir match dengan musik. Mama hanya melihatku dan tersenyum. Aku harap dia tak tahu aku akan pergi kemana, karena aku takut tak diizinkan kalau dia tahu.
“Assalamu’aliakum!”, seruku pamit. Lekas aku duduk di belakang Dani yang mengendara. Duduk menyamping. Sepeda Danipun meluncur.
Zrrt…zrrt…zrrt. Ponselku begetar. “Hallo?”, aku menyapa.
“Bie, ada dimana?”, Mas Idham merespon.
“Di jalan Mas”
“Lho? Ngapain? Memangnya kamu berangkat sendiri bisa nyampe’ ke rumah aku?”, Mas Idham terdengar khawatir. “ Ni aku mau jemput kamu lho!”
“Ohh, aku lupa bilang Mas. Ibunya temenku lagi sakit keras, ni aku diajakin anak-anak buat jengukin. Maaf ya Mas! Lain kali aku pasti dateng koq!”, lancar aku mengarang.
“I..Iya nggak papa. Ati-ati. Salam buat ibunya temen kamu itu ya. Cepet sembuh”. Tut…tut..tut.
Maaf.
Setelah cukup lama menunggu, Dani dkk pun beraksi. Buk… tar…buk… tar…buk…teng… teng. Gebukan drum dan petikan gitar menggema. Akupun larut didalamnya. Jantung berdebar dan telinga mengeras. Riuh. Namun aku menikmatinya. Dani dkk mengalunkan ceria nya JRockz, sama seperti secerianya aku bisa melihat kembali Dani bersemangat menabuh drum di stage sana. Rindu akan suasana seperti ini yang ‘tlah lama aku nanti. Anak matakupun terus mengekor ke arah Dani. Tampan.
Dan malam itupun berjalan seperti yang semestinya. Menyenangkan sekali dapat melihat Dani penuh ekspresi seperti itu. Bahkan, jahatnya aku yang tak merasa sedikitpun bersalah pada Mas Idham. Tapi inilah sebuah keputusan. Tanpa sadar aku telah menomorduakannya.
***
Tut… tut… tut… nada SMS membangunkanku. Dengan mata sedikit sayup dan roh yang belum kembali utuh aku mencoba menggapi hapeku. Ku buka SMS itu.
From : My Bie
Meski tak seindah yang kau mau. Tak sesempurna cinta yang semestinya. Namun aku mencintaimu. Sungguh mencintaimu. Begitu berat, begitu lekat perasaanku kepadamu .
Mngkin ni semwa hrus b’akhir. Kamu mmang t’lalu jauh dri aku.
Aku mengucek mata, mencoba sadar dari tidur ini. Ku baca ulang. Dan memang benar apa yang terlihat. Aku penasaran, dan mencoba menerka apa yang terjadi kemarin mungkin telah diketahuinya. Entahlah.
“Kakak! Ayo bangun!”, mama berteriak membangunkan. “O ya, ini mama menemukan surat di depan pintu buat Kakak. Cepet bangun Kak!”. Lekas aku keluar kamar dan menghampiri mama untuk mengambil surat itu.
Di tengah rasa rinduku yang menggebu
Kau bersama dia
Di saat-saat ku menunggu dirimu
Kau bersama dia
Bila kau cinta aku, mengapa kau tipu diriku tuk bersama dia ?
Kau bunuh hatiku saat ku bernafas untukmu
Kau kebanggaan aku yang TEGA menipuku
Yang TEGA menipuku!
Ini salahku atau salahmu ?aku sendiri tak tahu. Namun yang ku tahu pasti aku begitu menyanyangimu hingga ketika aku tahu ini tak berbalas sepenuhnya, aku rapuh, aku jatuh, aku sakit. TUHAN mungkin telah memiliki rencanaNYA, sebagian orang menerima, dan yang lain mungkin tidak. Termasuk aku yang tak menginginkan ini berkahir. Take Care. Maksih buat semuanya.
Luvv U
Aku makin kaget. Penasaran yang mencapai puncaknya. Mungkinkah dia mengerti apa yang terjadi? Namun, memang tak patut aku menyalahkan, ini sepenuhnya salahku, kebodohanku. Aku telah memilih Dani, dan untuk saat ini hanya dia. Dani yang telah berubah sikap membuatku semakin yakin padanya. Dan semakin berharap cintaku suatu saat akan dimengerti olehnya, oleh Dani.
Berulang kali aku mencoban menelpon Mas Idham, tetap saja dia tak mengangkat teleponku, bahkan dia menon-aktifkan hapenya. Setidaknya, jika ini adalah ujung perpisahan, aku menginginkan dia menerima keputusanku dengan ikhlas, dan berharap ketegaanku tak akan menjadi tombak yang terus-menerus menusukku dikemudian hari. Aku ingin menjelaskan ini semua.
Aku pening. Merasa sangat bersalah.
***
Sekolah seperti biasanya, lengang saat aku datang. Kulihat jam tanganku, 06.17 WIB. Pantas masih sepi, hanya segelintir anak yang terlihat. Segera aku menuju kelas yang terletak di samping toilet itu. Tiga orang saja yang menghuninya, empat denganku. Kemudian aku duduk dan meletakkan kepalaku di tangan yang berda di atas meja. Masih terasa pening.
“Napa lo?”, tak lama Tisa menegur.
Aku mengankat kepala. “Nggak, cuman pusing”
“Ke UKS sana. Mau aku anter?”
“Nggak deh, aku jalan sendiri aja”. Segera aku menuju ke tempat yang disarankan Tisa. Sesampainya, aku merebahkn diri.
Sekitar setengah jam kemudian aku berniat kembali ke kelas. Namun, Bruk…. Aku bertabrakan dengan seseorang. Dani. Dia memar.
“Kamu kenapa Dan?”, tanyaku seraya mencoba menyingkirkan rambut yang menutupi luka di jidatnya. Dia menangkis tanganku. “Kamu napa sih?”
“Lo pikir, gue kayak gini karna siapa?”
“Gue?”, terkaku.
“Sev, kalo’ lo anggep selama ini kita lebih dari sahabat, gue pikir lo salah! Gue udah punya cewek! Dan tak akan pernah ada hubungan lebih diantara kita! Tinggalin gue! Lupain gue! Gue nggak mau terus disalahin untuk kesalahan yang tak pernah gue lakuin!”, Danipun lari menjauh setelah menatapku tajam. Mungkin saat ini, dunia hancurpun aku takkan peduli. Sakit yang lebih dari pening. Sakit yang sangat. Dia yang ku pilih ternyata tak memilihku.
***
Dengan langkah gontai aku pulang ke rumah, bahkan mungkin sedari tadi ketika Dani dengan jelas-jelasnya menolakku, aku sudah gontai, tak bertenaga.
“Assalamualaikum”, lemas aku menyapa.
“Kenapa Kak?”, mama sepertinya mengerti keaadanku. Memang naluri seorang ibu. Diapun menghampiriku. Segera aku memeluknya erat. Tangispun tak terbendung lagi. Dan wanita paruh baya ini terus-menerus membelaiku. Terasa damai sasaat. Mama menuntunku ke arah sofa, lalu dia menyuruhku duduk. Aku masih terisak-isak.
“Kakak kenapa?”
Aku masih terisak-isak dan belum sempat menjawab pertanyaan mama. Mama hanya diam melihatku, kemudian dia masuk ke dalam untuk mengambil segelas air. Ku teguknya.
“Sev nggak tau ma Sev ini kenapa, tapi hati Sev sakit Ma, sakiiiiit..... banget”, aku kembali terisak, dan lagi-lagi mama membelaiku hangat.
“Mama kan sering bilang sama Kakak, kalau Kakak udah bisa ngrasian yang namanya cinta sama seseorang, berarti Kakak juga harus siap sakit hati. Dan kalau sekarang Kakak sakit ati karna cinta, Kakak nggak bisa dong nyalahin sapa-sapa, mestinya Kakak udah tau yang harusnya Kakak lakukan. Kakak mestinya sekarang udah harus bisa tanggung jawab, Kakak ‘kan sekarang udah gede. Kakak udah mau kuliah ‘kan?”, mama menuturiku panjang lebar. Aku menarik nafas panjang, mencoba mencernanya.
“Sev sedih bukan karna cinta Ma, tapi karna kebodohan Sev! Sev memilih orang yang tak pernah menoleh Sev dan begitu mudahnya membiarkan orang yang menyayangi Sev meninggalkan Sev, makanya Ma sekarang Sev nyesel. Nyesel banget”
Mama tersenyum melihatku. “Memang Kakak yang punya cinta, Kakak yang berhak memutuskan ingin mencintai siapa. Tapi, Kakak mesti ngerti, cinta itu akan membawa bahagia kalau tercipta dari dua hati. Kakak nggak bisa kalau memaksa seseorang mencintai Kakak, dan begitupun sebaliknya. Ya mulai sekarang, Kakak mesti inget pesan Mama baik-baik, cintai orang yang mencintai Kakak, namun Kakak juga mesti jujur sama diri sendiri, jangan memaksa kalau memang dia tak baik buat Kakak. Kejujuran memang sakit, tapi itu tak akan membawa masalah di kemudian hari. Percaya deh sama Mama”
Akupun tersenyum lega. Aku begitu bangga memiliki ibu seperti dia. Dia tegar, dia kuat, dia membuat kami–anak-anaknya percaya bahwa menjadi single parent tak selamanya buruk. Mama, kemanapun aku pergi dengan membawa segunung lukapun, akhirnya dirimu jualah yang menemukanku dan kembali menguatkanku.
Untuk semua yang telah terjadi diantara aku, Mas Idham, dan Dani adalah sebuah pelajaran. Dan setiap pelajaran mestinya selalu dimengerti dan diterapkan agar dapat menuntun kita untuk tidak jatuh dalam sebuah kesalahan yang kedua kalinya. Akupun patut bersyukur pernah menemukan seseorang seperti dia, Idham Aryo Wibowo. Jejak langkah yang dia tinggal mendewasakanku.
“O ya Sev, Mama udah bilang belom kalau kemarin lusa Idham ke rumah dan bertanya kamu kemana? Tapi mama udah bilang ke dia koq, kalau kamu pergi sama Dani lihat konser, mama bener ‘kan?”.







1 comments:
weleh2 cinta monyet...Mampir..Visit http://thetangga.blogspot.com/ Free Download Music,Software,Game PC,Movies & BlackBerry Apps..
Post a Comment